Review Film: Becoming Zlatan, Aroganisme dan Pembuktian

Bineragawan.com – Sebagai pecinta sepakbola, apa yang pertama kali terlintas saat mendengar nama Zlatan Ibrahimovic? Gol spektakulernya bersama ajax atau malah quote kontroversialnya “Lions don’t compare themselves to humans”. Apapun itu, Zlatan Ibrahimovic merupakan pesepakbola karismatik asal swedia yang selalu mendapat tempat spesial di Malmo FF. Malmo FF merupakan klub proffesional pertama yang mengawali karir pesepakbola dengan julukan Ibrakadabra ini. Faktanya Ibrahimovic tak langsung berada dalam level permainan seperti saat ini karena ia harus melewati berbagai fase sulit sebelum akhirnya menjadi pemain sekaliber saat ini.

Berhubung bineragawan.com berhasil mendapatkan akun netflix selama setahun penuh, salah satu tontonan yang disukai adalah film dokumenter. Film dokumenter dengan latar belakang sport memang selalu menarik untuk dikulik lebih dalam. Biasanya film sport documentary menyajikan perjuangan – perjuangan publik figur atau olahragawan dalam mendapatkan kesuksesan. Ya tapi hanya sebatas itu karena faktanya film dokumenter sendiri juga mencoba memberikan perspektif lain dalam sebuah bidang, dalam hal ini: Ibrahimovic.

Salah satu film dokumenter yang berhasil dicicipi bineragawan.com adalah “Becoming Zlatan” atau yang dapat diartikan pula “Menjadi Zlatan“. Meski, harus kita akui menjadi seorang Zlatan bukanlah perkara gampang karena seperti yang ia sebutkan dalam instagramnya, “Lions don’t compare themselves to humans“.

Becoming Zlatan, Dokumenter, Aroganisme dan Kontroversi Zlatan

Review Film Becoming Zlatan - Bineragawan
Sampul Film “Becoming Zlatan”

“Becoming Zlatan” adalah film dokumenter yang bercerita tentang sosok Zlatan Ibrahimovic dan di sutradai oleh Duo Sutradara asal swedia, Magnus Gertten dan Fredrik Gerrten. Kedua sutradara ini merupakan “maestro” dalam bidang perfilman dokumenter. Menariknya, keduanya juga berasal dari Malmo, sebuah kota tempat pertama kali Ibrahimovic memulai karirnya.

Profil Fredrik Gerrten, Sutradara “Becoming Zlatan”

Sedikit gatal, kaim juga coba membahas Fredik Gerrten, seperti yang dikutip dari WG FILM, sudah malang melitang dalam membidani beberapa film dokumenter seperti:

  • Bikes vs Cars Documentary (2015)
  • The Invisible Bicycle Helmet Short Documentary (2012)
  • BIG BOYS GONE BANANAS!* Documentary (2012)
  • BANANAS* Documentary (2009
  • The socialist, the architect and the twisted Tower Documentary (2005)
  • An Ordinary Faily Documentary (2005)
  • Just a piece of steel (2003) TV-documentary
  • The Way Back, True Blue 2 (2002) Documentary i cooperation with Magnus Gertten and Stefan Berg.
  • The Poetry General (2001) TV-documentary in cooperation with Lars Westman
  • The Death of a Working Man’s Newspaper (2000) TV-documentary
  • Walking on Water (2000) Documentary in cooperation with Lars Westman
  • Travel With siluette (2000) TV-documentary in cooperation with Lars Westman
  • The Great Bridge (2000) Short documentary in cooperation with Lars Westman
  • True Blue (1998) Documentary in cooperation with Magnus Gertten and Stefan Berg.
  • Kniven i hjärtat (1995) Documentary In cooperation Magnus Gertten and Stefan Berg
  • Malmö – Montevideo, min plats I världen (1995) TV-documentary in cooperation with Lars Westman.

Dengan segudang pengalaman tersebut, rasanya sah-sah saja jika ide membuatkan film dokumenter Ibrahimovic, layak diemban oleh beliau ya?

Proses Pembuatan Film

Fakta unik dari film dokumenter ini adalah pembuatannya memakan waktu hingga 17 tahun, dan dirilis oleh Studio Canal dalam bentuk DVD dan sudah dapat di download sebenarnya sejak 15 Agustus 2016 Silam. Bayangkan saja bagaimana apik nya film dokumenter luar negeri karena nyatanya arsip film yang dikelola memang persis dengan perjalanan panjang pesepakbola yang kini bermain untuk LA GALAXY tersebut.

Did You Know?

Film Zlatan Memiliki Durasi Waktu 96 Menit.

Para Pemain “Becoming Zlatan”

Anda tak akan habis pikir betapa ciamiknya film dokumenter ini karena para cast yang terlibat adalah orang – orang yang bekerjasama dengan Zlatan Ibrahimovic Semasa Hidupnya. Yang pertama adalah Marco Van Basten, legenda Ajax, sosok yang banyak memberikan masukan kepada Ibra dalam karirnya. Tak hanya itu ada juga Fabio Capello, pelatih yang menukangi Juventus pada masa kepindahan Ibrahimovic dari Ajax menuju Juventus. Ronald Koeman yang mencium bibit Ibrahimovic juga tampil dalam film ini serta memberikan pandangannya terhadap sang pemain.

Konflik Cerita di Dalam “Becoming Zlatan”

Alur cerita di dalam film ini menggunakan alur cerita mundur – maju, dimana pertama kali penonton akan dibawa untuk melihat proses kepindahan Ibrahimovic dari Malmo FF menuju Ajax Amsterdam. Hal pertama yang muncul saat menonton film dokumenter ini memang sosok Ibra yang sedikit arogan namun tetap suportif di dalam lapangan. Konflik cerita memang banyak menjelaskan soal Ibrahimovic yang individualistik dan merasa bahwa sepakbola adalah hiburan, hal ini yang sempat membuat Fabio Capello mengajaknya bicara empat mata.

Sepanjang film kita juga akan banyak disuguhi masalah Ibrahimovic dalam beradaptasi di setiap tim yang ia bela. Seperti pada medio 1999 – 2001 saat ia Membela Malmo FF, tim dari Swedia, di tim ini sendiri dalam 40 kali penampilannya ia berhasil mencetak 16 gol. Tak heran pada saat itu media Swedia memujinya setinggi langit dan menyebut Ibra sebagai salah satu pesepakbola masa depan Swedia.

Penampilan yang baik di Malmo FF membuat Ronald Koeman kepincut dengan aksinya. Hingga akhirnya ia direkrut dengan mahar  8 juta euro dan menjadikannya pemain termahal dalam sejarah AJAX AMSTERDAM pada saat itu. Meski begitu diawal kepindahannya ia tak langsung moncer. Hal ini disebabkan oleh kehadiran Mido yang pada saat itu tengah tampil sangat baik bersama Ajax Amsterdam.

Dalam film ini juga dijelaskan bagaimana hubungan tak harmonis diantara keduanya, antara Mido dengan Zlatan. Yang menarik adalah peristiwa gunting di kamar ganti. Peristiwanya adalah Zlatan Ibrahimovic disaat yang sama tengah tampil sedang baiknya sedangkan Mido dalam performa yang kurang baik. Yang kemudian terjadi adalah Mido melempar sebuah gunting kearah Zlatan dan sempat menyebabkan kerusuhan diantara mereka yang pada akhirnya malah berujung pertemenan diantara keduanya di kemudian hari.

Dalam film ini juga dijelaskan bagaimana Zlatan Ibrahimovic juga sempat dibenci oleh publik belanda, yakni pada saat Ibra membela Swedia saat bertemu Belanda. Seperti yang diketahui Ibrahimovic pada saat itu masih membela tim dari Belanda, namun entah apa yang ada di pikiran Ibrahimovic, ia malah mentackling keras Rafael Van Der Vaart yang notabene merupakan rekan setimnya di Ajax.

Ada banyak sekali konflik di dalam cerita yang diakibatkan oleh sifat seoarang Ibrahimovic yang ego-sentris. Meski dengan sifat seperti itu, faktanya Ibrahimovic selalu mampu menampakkan kepada publik bagaimana kualitasnya sebagai pesepakbola yang handal dan tidak besar bacot doang.

Pesan Moral “Becoming Zlatan”

Pesan moral dari film ini adalah kita tidak mungkin menjadi Zlatan hahaha dengan segala intrik dalam kalimat yang ia sampaikan, ia selalu berusaha memberikan first impression tidak menarik kepada lawannya untuk membuat down. Setelahnya ia akan mengubah hal tersebut menjadi permainan impresif di atas lapangan dan kemudan mengakhir dengan kemenangan lewat torehan golnya.  Hal yang sangat positif dari seorang zlatan adalah kepercayaan dirinya yang luar biasa akan membuat anda terkesima sepanjang tontonan dan yang menarik adalah soal kisah percintaan serta konfilik keluarga yang biasa dihadapi anak seusianya pada saat itu.

Film ini benar – benar sangat layak ditonton bagi para pecinta sepakbola yang ingin mengenal Singa yang mengaku Dewa tersebut! Selamat menonton!

Ternyata untuk full video nya sudah ada di youtube, jadi selamat menyaksikan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *