Mengenal Lebih Dekat Kecamatan Lubuk Pakam, Kota Nagabonar!

Selamat Datang Di Lubuk Pakam

Bineragawan.comLubukpakam, Kecamatan indah di tengah – tengah Sumatera Utara. Jika anda seorang traveller sejati (dan pernah ke bandung) mungkin pernah melihat kalimat “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum” yang disebut M.A.W Brouwer dan ada di salah satu pojok kota kembang tersebut. Nyatanya, Tuhan tidak hanya tersenyum ketika menciptakan bandung saja, melainkan juga menciptakan Lubuk pakam. Sebuah prolog yang lumayan bagus ya untuk sebuah website bineragawan.com yang akan banyak membahas seputar lubuk pakam.

Siapa yang tidak mengenal pulau Sumatera? Ya, Sumatra merupakan pulau keenam terbesar di dunia yang menjadi bagian negara Indonesia. Memasuki area Sumatera Utara, rasanya kurang pas jika tidak menyempatkan diri berjalan-jalan ke salah satu kecamatan yang merupakan salah satu pusat proyek pengembangan Mebidang (Medan Binjai Deli Serdang), yakni Lubuk Pakam. Kecamatan yang memiliki luas 31,19 km2, terdiri dari kurang lebih 91.000 jiwa. Kecamatan ini merupakan kota kecil yang merupakan ibu kota Kabupaten Deli Serdang yang dilewati Jalan Raya Lintas Sumatera.

Sejarah Kota Lubuk Pakam

Lubuk Pakam merupakan ibu kota dari Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Seperti halnya semua kota di Indonesia, kota ini tentu memiliki sejarahnya sendiri. Namun, sebelum beralih membahas sejarah, perlu mengetahui arti dari nama kota tersebut. Berdasarkan cerita rakyat, Lubuk berarti bagian terdalam dari sungai atau area yang paling dalam. Sedangkan kata Pakam sendiri adalah pohon yang biasanya tumbuh di pinggiran sungai. Jadi, keduanya memiliki arti akar kuat dan melilit semua yang masuk ke dalamnya.

Sejarah Kota Lubuk Pakam dari Arti Nama dan Lainnya

Berdasarkan arti kata Lubuk dan Pakam, muncul berbagai asumsi dengan menghubungkan dua kata itu. Mereka mempercayai bahwa lubuk menggambarkan siapa saja yang masuk dan menetap di kota ini susah keluar, seolah terperangkap sehingga sulit mencari kehidupan di daerah lain. Orang-orang di kota ini kabarnya enggan merantau, kehidupannya seperti berada di lubuk yang dalam. Sebaliknya, jika mulai keluar pasti tidak mau lagi kembali ke lubuk (kampung). Sedangkan pakam (pakem) diartikan sebagai cengkraman yang kuat. Menetap di dalam lubuk seolah tidak memberi ruang untuk bergerak.

Sejarah Lubuk Pakam dan Stasiun Lubuk Pakam
Sejarah Lubuk Pakam dan Stasiun Lubuk Pakam (Sumber foto: halaman wikipedia)

Kecamatan ini sejak dulu telah menjadi pusat pemerintah baik bagi pemerintah kerajaan Negeri Serdang maupun bagi pemerintahan Hindia Belanda. Pada zaman pemerintahan Jepang, kota ini menjadi tempat kedudukan yang konsisten. Dan pada pemerintahan Republik Indonesia merupakan tempat kedudukan Wedana (Bupati). Seiring pemindahan Ibu Kota Kabupaten Deli Serdang dan Medan ke Kota Lubuk Pakam, maka kecamatan ini dikembangkan menjadi empat wilayah demi terciptanya daya guna hasil penyelenggaraan pemerintah dan pembinaan wilayah. Wilayah ini kemudian dikembangkan lagi menjadi lokasi kedudukan pemerintahan tingkat ll Deli Serdang.

Kelurahan Lubuk Pakam I-II dulunya merupakan kampung yang berpenduduk banyak lalu akhirnya dipecah menjadi tiga desa yakni Desa Pekan, Desa Pekam I-II, Desa Pekam III. Tahun 1981, kepala pemerintah kota meminta kepala kampung mengubah nama desa menjadi kelurahan. Penduduk yang berada di kampung semakin padat, maka tiga desa tadi digabungkan menjadi satu kelurahan. Menurut data kelurahan, orang yang pertama kali mendiami wilayah itu adalah orang yang berkelompok etnik Minangkabau dan Batak. Lalu kemudian muncullah berbagai etnik lainnya seperti Melayu, Aceh, Banten, Tionghoa,

Pada tahun 1980-an, banyak pedagang mulai berdatangan dari Galang, Perbaungan, Tanjung Marowa yang tujuan utamanya adalah berdagang tapi menetap di kelurahan ini. Semakin banyak penduduk yang ada, semakin banyaklah kemajuan yang terlihat, seperti kegiatan gotong royong membersihkan jalan. Banyak pula pembangunan-pembangunan yang terjadi di wilayah ini, sehingga Kelurahan Lubuk Pakam l-ll dibagi menjadi sebelas lingkungan. Cara pembagiannya pun berdasarkan panjang dan lebar masing-masing wilayah. Berdasarkan panjangnya, jarak antar lingkungan sekitar 40 rumah dan berdasarkan lebar terdiri dari 30 rumah. Kini, kecamatan ini telah menjadi kota yang maju dengan berbagai pembangunan yang semakin pesat.

Hal Yang Bisa Ditemui di Lubuk Pakam

Siapa yang tidak kenal film Naga Bonar yang pernah eksis di zamannya? Kembali mengingatkan bahwa kecamatan ini merupakan latar belakang alam film tersebut. Kabarnya, kota ini memang terbilang tertinggal dibandingkan daerah di sekitarnya. Namun, saat ini kota ini sudah mulai berbenah diri.

Naga Bonar dan Lubuk pakam

Kota Lubuk Pakam memiliki wilayah geografis paling besar dibandingkan kecamatan lainnya di Sumatera Utara. Saat ini, telah banyak hal dapat ditemui di kota ini. Diantaranya adalah tempat wisata yang menarik serta berbagai kuliner yang memanjakan lidah. Jadi, jika suatu hari nanti singgah ke kota ini, Anda tidak perlu bingung terkait destinasi yang harus dikunjungi serta makanan apa yang akan Anda beli. Tempat ini telah mempunyai beragam keindahan yang patut diacungi jempol.

Kuliner Yang Ada di Lubuk Pakam

Salah satu destinasi menarik di kota ini yakni Taman Buah. Taman ini adalah salah satu tempat wisata terfavorit yang tidak perlu menguras dompet dengan harga tiketnya yang mahal. Taman ini dikelola oleh pemerintah khususnya dinas pertanian, sengaja diperuntukan bagi wisatawan untuk menikmati nuansa alam yang terbuka. Selain itu, terdapat Pantai Putra Deli yang letaknya tidak jauh dari landasan pacu KNIA (Kuala Namu International Airport). Pantai ini masih asri, pengunjung dapat leluasa melihat pesawat terbang yang landing atau take off seakan-akan mendarat di laut. Tempat wisata ini menjadi bagian penting yang harus dikunjungi.

Pantai Putra Deli - Lubukpakam - Bineragawan

Sumber Foto : Semedan, Pantai Putra Deli

Untuk masalah kuliner, Lubuk Pakam juga terkenal memiliki kuliner dengan cita rasa yang khas, mie sop simpang ria. Anda bisa menemukannya di salah satu warung legendaris yang telah menjadi pilihan favorit warga, tepatnya di persimpangan jalan Dr. Supomo. Selalu memberikan cita rasa yang membuat perut lapar seketika. Kuah mie sopnya segar, terhidang dalam keadaan panas dan gurih selalu menggiurkan.

Mie Sop Simpang Ria - Lubukpakam
Mie Sop Simpang Ria – Lubukpakam

Banyak hal menarik yang ditemui jika berpijak di kecamatan yang memiliki 13 desa ini. Bahkan telah meraih banyak prestasi meskipun tergolong sebagai kota kecil. Pada tahun 2015 kemarin, berhasil meraih penghargaan Adipura untuk kategori kota kecil dari Kementrian Lingkungan hidup dan kehutanan, disaksikan langsung oleh mantan wakil Presiden Jusuf Kalla. Lubuk Pakam menjadi kota pilihan yang patut dibanggakan dan kini telah berkembang pesat.

Demikianlah artikel tentang “Mengenal Lebih Dekat Kecamatan Lubuk Pakam, Kota Nagabonar!” yang berhasil ditulis dan di himpun oleh bineragawan.com dari berbagai sumber. Besar harapan dengan semakin majunya perkembangan zaman, lubuk pakam dapat terus menjadi daerah percontohan bagaimana masyarakat multikultural dapat bersatupadu dan hidup harmonis. Dengan harmonisasi tersebut maka tagline dari pemerintah kabupaten Deli Serdang, “Bhineka Perkasa Jaya” dimana perbedaan adalah potensi yang dapat dimanfaatkan untuk maju bersama demi pembangunan yang berkelanjutan adil dan sejahtera di kabupaten Deli Serdang. Salam, bineragawan.com!

2 thoughts on “Mengenal Lebih Dekat Kecamatan Lubuk Pakam, Kota Nagabonar!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *